Tampilkan postingan dengan label definisi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label definisi. Tampilkan semua postingan

Selasa, 25 Agustus 2009

Mengapa RD Pendapatan Tetap Bisa Anjlok Puluhan Persen

Banyak khalayak mengira berinvestasi di Reksadana Pendapata Tetap (RDPT) berarti akan selalu aman, sebab RDPT masuk ke obligasi. Pandangan tersebut memang benar, bahwa obligasi relatif instrumen yang aman. Resikonya sedikit di atas deposito, bahkan bila obligasi yang dipilih memiliki rating AAA sehingga cenderung aman dari gagal bayar, maka resikonya bisa ditekan hingga (hampir) sekecil deposito.

Lantas mengapa ada RDPT yang anjlok sampai puluhan persen?

Nah, kalau kita ingin mengetahui jawabannya, pertama kita harus menelusuri dulu seluk beluk obligasi.

Definisi Obligasi
Obligasi adalah sebuah surat hutang yang dikeluarkan oleh perusahaan atau pemerintah. Hutang tersebut memiliki jangka waktu, misalnya selama 3 tahun sebagaimana beberapa ORI terdahulu.

Sistem pembayaran obligasi mirip dengan sistem pembayaran hutang bank. Tiap periodenya, pembuat obligasi akan membayar sejumlah uang ke pembeli obligasi. Konsepnya mirip dengan hutang bank biasa.

Namun ada juga kalanya, dari awal hingga akhir periode, pembuat obligasi tidak membayar apa-apa. Dan kemudian pada akhir periode, semua bunga dan pokok akan dibayar sekaligus. Ini disebut Ballon Payment Obligasi (obligasi dengan pembayaran secara menggelembung).

Pendek kata, sistem dalam obligasi mirip dengan hutang bank biasa. Ada jangka waktu, ada pembayaran bunga, dan periodenya. Yang berbeda, obligasi mengenal sistem bursa.

Bursa Obligasi
Sebagaimana saham diperdagangkan di bursa, maka obligasi pun juga bisa diperdagangkan di bursa. Suatu ketika harga obligasi mengalami kenaikkan, misalnya menjadi 110% dari harga aslinya. Sedangkan di lain pihak, saat itu pemilik obligasi sedang butuh uang mendesak dan ingin mencairkan dananya. Maka dia pun bisa menjual obligasi tersebut ke bursa dengan harga yang berlaku saat itu. Keuntugan penjualan berupa harga jual – harga beli (seperti ketika dagang emas) disebut capital gain.

Begitu pula, kadang Manajer Investasi pun bisa melakukan penjualan obligasi di bursa. Tujuannya ada 2, pertama mendapatkan keuntungan yang lebih besar dari sekedar keuntungan bunga saja, sehingga nilai NAB ikut terdongkrak. Dan yang kedua, untuk memenuhi kebutuhan redemption masyarakat.

Redemption Massal, Awal Dari Petaka Hitam
Dalam kondisi tertentu, masyarakat mudah panik. Survey membuktikan, nyaris 80% masyarakat Indonesia merupakan kalangan deposan, dalam artian termasuk golongan konservatif yang takut resiko. Nah, karena mereka terbiasa hidup di dunia deposito yang aman, nyaman (dan berbunga kecil), maka ketika mereka berinvestasi di RDPT pun, mereka tetap menginginkan kenyamanan di deposito dulu. Karenanya, ketika harga RDPT turun, maka masyarakat pun mengalami kepanikan.

Apalagi ditambah gossip, Manajer Investasi bisa kolaps. Nah, makin panik-lah masyarakat RDPT...

Akhirnya, mereka pun memilih melepas dana di RDPT, dan memilih kembali ke deposito saja. Dalam kasus macam ini, akan terjadi redemption / penarikan dana di RDPT secara besar-besaran, dan serentak. Karena beberapa RDPT memperbolehkan penarikan secara likuid, maka otomatis konsekuensinya pihak Manajer Investasi harus menyediakan dana segar dalam jumlah besar saat itu juga. Darimana mereka mendapatkan dana segar dalam jumlah miliaran atau puluhan milyar dalam tempo singkat?

Akibatnya, kadang mereka terpaksa menjual obligasi di bursa karena tuntutan masyarakat yang ingin melakukan redemption saat itu juga. Padahal, harga obligasi di bursa sedang anjlok hingga di atas -5%. Inilah awal kerugian suatu RDPT.

Tak hanya itu saja, ternyata akibat redemption tersebut, harga NAB RDPT terkoreksi menurun. Ditambah gossip buruk, maka nasabah pun makin panik. Dan penarikan tahap kedua, ketiga, dan seterusnya berlangsung. Ouch, saya mulai merasa kasihan pada pihak Manajer Investasinya...

Lebih lanjut, akibat dari suatu redemption tidak hanya membuat Manajer Investasi mengalami kerugian akibat harus menjual dana obligasi di bursa pada saat harganya turun. Tetapi redemption itu sendiri juga mengakibatkan penurunan nilai suatu reksadana di mata masyarakat, dan akibatnya NAB pun kembali turun.

Itulah mengapa ada RDPT yang bisa anjlok hingga minus belasan persen. Masihkah Anda berpandangan RDPT yang masuk obligasi itu 100% aman bak deposito?

Best regards,

Eka Dharma Pranoto, S.Kom, Aff.WM.

---------------------------

- Privat umum bisnis dari nol: 100 ribu rupiah *
- Privat umum reksadana dari nol: 100 ribu rupiah *
- Pembuatan program komputer untuk toko / mini-market / usaha apapun **
- Privat khusus 1 orang saja: 200 ribu rupiah
* minimal 5 orang pendaftar
** bergaransi support purna jual selama 5 tahun

Anda pun bisa mendapatkan penghasilan tambahan dengan menjadi makelar program komputer yang kami jual. Komisi berkisar 250 rb - 1 juta per order, fleksibel, tanpa dikejar target, tanpa uang pendaftaran.

Hubungi:
ekadp73@yahoo.com
ekadp22@yahoo.com (dalam kondisi email pertama gagal)

Kamis, 20 Agustus 2009

Mengenal Reksadana Campuran

Selama ini kita mengenal RD saham dan RD pendapatan tetap. Namun, ternyata kedua RD tersebut mampu disilangkan, menghasilkan jenis peranakan baru. Tak lain adalah RD Campuran. Siapa sih dia? Penasaran khan? Yuk, kita kenalan dulu!

Beberapa anggota masyarakat masih merasa enggan berinvestasi di RD Saham. “Saya masih takut resikonya, Pak. Saya ini dulunya seorang deposan. Saya tertarik masuk ke RD karena terprovokasi teman saya, dan karena bunga deposito terus menerus turun.”
Namun di lain pihak, mereka juga mengeluhkan RD pendapatan tetap yang bunganya relatif kecil. Tak banyak RD pendapatan tetap yang mampu memberi imbal hingga 20%, kecuali untuk MI tertentu yang tidak sekedar membeli obligasi untuk mendapatkan returnnya, tetapi juga piawai dan berani mengejar capital gain di bursa obligasi.

Nah, kedua permintaan tersebut, dimana pihak nasabah mengharapkan RD dengan return di atas obligasi, serta dengan resiko kecil, menghasilkan suatu penawaran baru. Kata orang ekonomi, ada permintaan, pasti akan muncul penawaran. Dan lahirlah, RD Campuran.
Pada RD Campuran, sebagian dana nasabah akan dimasukkan ke saham, dan sebagian ke obligasi. Pada RD Saham, biasanya alokasi dananya minimal 80% saham, dan 20% ke obligasi atau ekuitas berefek hutang lainnya. Bahkan salah satu RD Saham terkemuka di Indonesia, berani mematok minimal 90% dana masuk ke saham, dan 10% sisanya baru dimasukkan ke ekuitas berefek hutang. Bahkan ada RD Saham yang terang-terangan mengatakan 100% dana akan dimasukkan saham semua.

Sebaliknya, pada RD Campuran, alokasi dana yang dimasukkan ke obligasi, jelas lebih besar daripada RD Saham. Inilah yang menyebabkan RDC terasa nyaman bagi sebagian khalayak investor.

Di satu pihak, RD Campuran mampu memberi return memadai di atas obligasi, bahkan bisa di atas 30% /thn. Namun, di lain pihak resikonya pun tak sebesar RD Saham. Nah, tentunya adanya kesesuaian antara resiko dengan return ini akan memuaskan banyak pihak nasabah bukan?

Meskipun tampaknya memuaskan nasabah yang menginginkan return lumayan dengan resiko yang masih bisa ditoleransi, namun sebenarnya kalau ditilik, logika RD Campuran amatlah sederhana. Sebarkan saja sebagian dana ke obligasi dan sebagian dana ke saham. Dan jadilah RD Campuran. Logikanya cukup simpel bukan?

Mengapa RD Terproteksi Tidak Boleh Ditarik Dananya Sebelum Jatuh Tempo

Kalau kita main di jenis RD yg lain, maka kita akan merasakan likuidnya sistem RD Terbuka di Indonesia, yakni kebebasan menarik dana kapan saja tanpa adanya penalti kecuali tentunya Redemption Fee yang bervariasi besarnya. Namun fenomena berbeda akan dirasakan pada RD Terproteksi, dimana jika kita menarik dana sebelum waktu yang ditentukan, maka kita akan terkena penalti tertentu.

Pertanyaannya, why, why, and why?

Menjawab pertanyaan ini, kita harus kembali merunut bahwa sebagian besar RD Terproteksi ditempatkan dalam obligasi berbunga tinggi. Bunga tinggi dari obligasi tersebut ditambah rating obligasinya dimana dia biasanya memiliki rating tinggi (misalnya AAA) yang potensi gagal bayarnya kecil, menjadikan RD Terproteksi mampu menjamin dana nasabah minimal kembali 100% utuh seperti sediakala.

Namun, karena RD Terproteksi dipaksa menjamn dana nasabah kembali 100% sediakala, maka konsekuensinya obligasi yang diambil pihak Manajer Investasi pun tidak boleh ditarik seenaknya. Sebab seperti kita ketahui bersama, dalam bursa obligasi, suatu obligasi bisa saja turun nilai jualnya. Misalnya nilai obligasi A dulu bernilai 1 triliun rupiah, kini turun menjadi 950 milyar. Hal ini bisa saja terjadi. Mengapa? Sebab kenaikan BI-rate atau adanya obligasi baru dengan bunga yang lebih menarik, akan cenderung menjatuhkan nilai obligasi lama.

Pendek kata, kadang obligasi yang dibeli MI RD Terproteksi bisa turun nilai jualnya di bursa.
Konsekuensinya, jika nasabah menarik dananya di sembarang waktu, pihak MI terpaksa menjual sebagian obligasi yang dimilikinya tersebut ke bursa. Katakanlah waktu itu harga jual obligasi tersebut baru turun nilainya, maka pihak MI pun terpaksa menelan kerugian penjualan senilai tertentu, karena tuntutan pihak nasabah yang ingin dananya cair saat itu juga. Itulah alasan yang mendasari mengapa RD Terproteksi melarang penarikan sebelum jatuh tempo, dan jika nasabah ngotot melakukannya, akan dikenai sejumlah penalti berupa potongan dengan nilai tertentu.

Lalu, kejamkah kebijakan pihak MI RD Terproteksi ini?

Saya kira, tidak juga. Bagi mereka yang biasa tinggal di dunia pasar modal, tentu memahami bahwa kebijakan MI ini wajar saja. Illustrasinya, coba Anda sendiri membeli obligasi ORI. Kemudian suatu ketika, obligasi ORI tersebut turun nilainya, misalnya karena adanya obligasi ORI dengan imbal lebih besar atau peningkatan BI-rate. Nah, ketika harga jual obligasi ORI turun, dan Anda nekad menjualnya di bursa, Anda pun terpaksa menelan pil pahit bahwa harga jualnya tidak lagi sebagus dulu. Dan Anda pun mengalami kerugian penjualan sejumlah tertentu.

Begitulah kira-kira perasaan MI ketika Anda memaksanya mencairkan dananya pada sembarang waktu, terutama ketika bursa obligasi sedang turun. Kalau permintaan Anda ditolak, sudah tentu kepercayaan nasabah akan turun akibatnya. Sebaliknya kalau permintaan Anda dikabulkan, pihak MI terpaksa gigit jari sebab terpaksa harus menjual sebagian obligasinya dengan harga di bawah normal. Oh well, maju kena, mundur kena. Saya jadi ingat judul sebuah film yang dibintangi Dono-Indo-Kasino...

Karena itulah, saya pun bisa memahami kebijakan pihak MI memberikan denda pada Anda apabila Anda menarik dana sebelum jatuh tempo yang disepakati bersama. Yah, itulah harga sebuah jaminan proteksi dana pasti minimal balik 100%. Kalau di dunia nyata, orang pun perlu bayar fee body-guard untuk menjamin keamanan dirinya, maka saya kira wajar jika di dunia pasar modal pun, yang namanya keamanan dan jaminan itu tidaklah gratis. Seyogyanya, memang di abad 21 ini, tak ada yang namanya gratis, selain di alam mimpi.

Salam sukses,

Eka Dharma Pranoto, S.Kom, Aff.WM.

===========================

- Privat umum bisnis dari nol: 100 ribu rupiah *
- Privat umum reksadana dari nol: 100 ribu rupiah *
- Pembuatan program komputer untuk toko / mini-market / usaha apapun **
- Privat khusus 1 orang saja: 200 ribu rupiah
* minimal 5 orang pendaftar
** bergaransi support purna jual selama 5 tahun

Hubungi:
ekadp73@yahoo.com
ekadp22@yahoo.com (dalam kondisi email pertama gagal)

Bikin Reksadana Terproteksi Sendiri Yuk

Emangnya bisa, Pak?

Bisa donk!

Dan tentunya lebih bergengsi lah. Kita jadi terkesan sophisticated gitu. Terus caranya gimana? Simak triknya berikut ini!

Pertama, untuk membuat RD Terproteksi, kita perlu mempunyai investasi yang aman dari gagal bayar, dengan bunga lumayan, minimal di atas 10% /thn. Bisa pakai deposito, ORI, dsb. Secara umum biasanya pakai deposito saja.

Katakanlah kita menggunakan deposito berbunga 12,5% /thn, jika dipotong pajak 20%, menjadi bersih 10% /thn. Nah, bunga segitu cukup untuk membuat RD Terproteksi versi kita sendiri.
Untuk memudahkan memahaminya, simak illustrasi berikut ini. Katakanlah si Budi punya uang 100 juta rupiah. Si Budi ini seorang bermental konservatif yang takut resiko, maka dia pun menginginkan jaminan atas investasinya, minimal harus modal balik. Namun, di lain pihak karena terprovokasi oleh rekan-rekan kerja sekantornya yang bermain saham semua, maka timbul niat si Budi untuk juga bermain saham yang terkenal akan resiko dan volatilitas pasarnya yang luar biasa. Lantas apa akal si Budi agar bisa main saham, tetapi ada jaminan uang investasinya takkan berkurang alias modal pasti akan selalu balik?

Pertama, si Budi mencari deposito daerah yang aman dari potensi likuidasi dan gagal bayar, dengan bunga 12,5% /thn, sehingga bersihnya 10% /thn. Katakanlah ada 3 bank daerah dengan bunga semacam itu, bank A, bank B, dan bank C.

Kemudian si Budi pun memecah dananya sebesar 90% dimasukkan 3 deposito tersebut. Jadi uang sebesar masing-masing 30 juta, dimasukkan bank A, bank B, dan bank C, dengan masing-masing berbunga bersih 10% /thn.

Nah, kini si Budi pun mulai bermain saham dengan sisa uang yang ada, yakni 10 juta rupiah. Karena dia hanya seorang pemula, maka jatuh bangun pun dirasakannya. Karena suatu ketika, misalnya musibah seperti Lumpur Lapindo dulu, harga saham perusahaan yang dibelinya melorot drastis. Dan akhirnya dana yang 10 juta tadi ludes babar pisan. Dan mulailah si Budi menyanyikan lagu sendu ala film klasik Oshin...

Namun, apakah si Budi merugi? Berapa total dananya sekarang?

Tak lain tetap 100 juta rupiah!

Hah?! Bagaimana mungkin?!! Khan tadi si Budi sudah kolaps main saham 10 juta rupiah, masak sih dananya tetap utuh 100% seperti sediakala?! Apakah kerugian di saham sebesar 10 juta tadi tidak berefek pada dananya?!! Mana mungkin?! Apa pakai jin?!!

Hmm, tidak usah kaget. Sebenarnya perhitungan di balik layar cukup logis dan matematis kok. Coba kita runut lagi cara investasi si Budi. Pertama, si Budi menyetor dana 90 juta ke deposito berbunga bersih 10% /thn. Pada akhir tahun, bunga bersihnya 10 juta rupiah.

Kemudian, si Budi juga menggunakan 10% dana yakni 10 juta rupiah ke saham. Pada akhir tahun, dana tadi ludes karena si Budi nggak berpengalaman. Jadi kini dana dari saham, nol rupiah.

Berapa total dananya?

Deposito: 90 juta + 10 juta (bunga deposito)
Saham: 0 juta
Total dana: 100 juta rupiah.

Dan modal balik! Inilah yang disebut konsep RD Terproteksi, yakni dalam kondisi apapun juga, modal pasti balik seperti semula.

Artikel kali ini menunjukkan bahwa investasi dengan jaminan modal pasti balik 100% itu (teorinya) mungkin saja. Artikel kali ini juga menunjukkan RD Terproteksi itu bisa dibuat sendiri. Kalau kita paham teorinya, simpel saja khan sebenarnya?

==================


- Privat umum bisnis dari nol: 100 ribu rupiah *
- Privat umum reksadana dari nol: 100 ribu rupiah *
- Pembuatan program komputer untuk toko / mini-market / usaha apapun **
- Privat khusus 1 orang saja: 200 ribu rupiah
* minimal 5 orang pendaftar
** bergaransi support purna jual selama 5 tahun

Hubungi:
ekadp73@yahoo.com
ekadp22@yahoo.com (dalam kondisi email pertama gagal)

Apa Itu Reksadana Terproteksi

Reksadana Terproteksi merupakan varian RD Pendapatan Tetap, dimana komposisi sebagian besar (minimal di atas 50%) alokasi dananya adalah pada obligasi. Katakanlah komposisi suatu RD terproteksi adalah 90% obligasi, dan 10% ke lain-lain.

Nah, pada komposisi yang 90% obligasi ini, maka bunga obligasi harus minimal 10%. Sehingga dijamin bahwa dana nasabah takkan hilang. Mengapa demikian?

Katakanlah sebuah RD terproteksi A memiliki dana 1 trilyun rupiah. Dimana 900 milyar dana dialokasikan ke obligasi rating AAA, dengan suku bunga 10% per periodenya. Sementara itu sisa uang sebesar 100 milyar dialokasikan ke berbagai instrumen lainnya (yang berisiko hilang), macam saham, options, dsb.

Nah, ketika suatu hari, perekonomian guncang dan dana 100 milyar tersebut hilang 100% (misal karena investasinya bodong, bank investasinya pailit, dsb).

Pertanyaannya, apakah dana nasabah akan hilang dan nasabah mengalami kerugian investasi?
Ternyata tidak. Mengapa sebab dana 900 milyar masuk obligasi rating AAA yang tergolong aman dari kegagalan bayar. Sementara itu, obligasi tersebut berbunga 10% (100 milyar).
Sehingga pada akhir periode, dana nasabah akan tetap 1 trilyun (yang berasal dari 900 milyar obligasi + 100 milyar bunga obligasi + dan 0 rupiah dari 100 milyar instrumen yang hilang di pasar saham, pasar options, pasar investasi yang pailit / terlikuidasi).

Inilah mengapa dalam buku saya, saya menyebut bahwa teorinya investasi RD terproteksi itu pasti akan 100% aman.

Akan tetapi, itu kan teorinya. Fakta konkrit dalam dunia nyata, tidaklah dan takkan pernah seindah dalam teorinya. Maka RD terproteksi pun tidak 100% aman dari masalah.

- Bagaimana jika obligasi yang dibeli manajer investasi bukan obligasi aman dengan rating AAA?

- Bagaimana jika obligasi AAA pun, ternyata naas mengalami kegagalan bayar?

- Bagaimana jika nasabah tak bisa menunggu masa obligasi berbayar, dan gatal menarik dananya sebelum masa yang seharusnya ditentukan oleh pihak manajer investasi.

Perlu diketahui bahwa dalam RD ini, ada masa tertentu untuk pembelian UP-nya dan ada masa tertentu untuk penjualan UP-nya. Jika bukan masa penjualan yang ditentukan, seyogyanya Anda dilarang pihak Manajer Investasi RD untuk menarik dana Anda. Dan jika Anda tetap menarik dana Anda, misalnya karena (maaf) anak Anda kecelakaan dan Anda butuh uang segera, maka Anda akan terkena pinalti sejumlah tertentu oleh pihak Manajer Investasi.

Itulah sekelumit pengetahuan yang saya tahu tentang RD Terproteksi. Teorinya, dia aman 100%. Tapi nyatanya, hanya Tuhan yang tahu ke depannya bagaimana.

Tiada jaminan 100% di dunia yang tak sempurna ini, Ya Tuhan-ku, selain daripada-Mu... Memang benar adanya!

============


- Privat umum bisnis dari nol: 100 ribu rupiah *
- Privat umum reksadana dari nol: 100 ribu rupiah *
- Pembuatan program komputer untuk toko / mini-market / usaha apapun **
- Privat khusus 1 orang saja: 200 ribu rupiah
* minimal 5 orang pendaftar
** bergaransi support purna jual selama 5 tahun

Hubungi:
ekadp73@yahoo.com
ekadp22@yahoo.com (dalam kondisi email pertama gagal)

Bikin Reksadana Pendapatan Tetap Anda Sendiri

“Saya nggak mau ribet bertemu Manajer Investasi saya yang botak menyebalkan, saya juga nggak mau ribet bertemu customer service Bank Kustodian saya yang enggak ramah. Saya nggak mau masuk RD. Saya maunya bikin RDPT saya sendiri. Bisa nggak?”

Kalau saya jawab bisa, kagetkah Anda?

Sebenarnya tidak perlu kaget. Ingat, definisi RDPT adalah RD yang 80% dananya dimasukkan obligasi atau deposito, dan sisanya sebesar 20% boleh dialokasikan untuk apa saja, termasuk saham. Kalau paham definisinya, membikin sendiri RDPT Anda sendiri, mungkin-mungkin aja kok.

(1) Survey dulu bank mana yang punya deposito paling besar returnnya. Beberapa bank daerah menjanjikan return 11% ke atas.

(2) Nilailah apakah bank tersebut aman dari potensi likuidasi atau kolaps.

(3) Untuk menilai kelayakan bank, carilah laporan keuangan dengan www.google.com. Kemudian perhatikan berapa total asetnya, apakah total asetnya di atas 80 milyar atau tidak. Standar pemerintah, sebuah bank baru diakui jika total asetnya di atas 80 milyar. Standar saya pribadi sih di atas 200 M.

(4) Periksa juga kolom kewajiban / hutangnya. Pastikan rasio aset / kewajiban, minimal 2 kali, dalam artian aset harus dua kali jumlahnya dibanding kewajiban / hutang.

(5) Periksa juga ke mana saja pos-pos asetnya. Bank yang kokoh, menyebar / mendiversifikasikan dananya ke banyak tempat sekaligus, baik ke luar negeri, ke dalam negeri, ke SUN, obligasi korporat, saham, dan sebagainya. Semakin terdiversifikasi dan tersebar secara merata, makin baik adanya.

(6) Mengapa suatu bank harus menyebar asetnya secara merata? Ingat kasus 2008 silam, dimana perusahaan investasi asal USA yakni Lehmann Brothers menyatakan pailit. Otomatis dananya pun akan mengikuti aturan likuidasi, dimana hutang pajak dan pemerintah akan dinomer satukan, dan dana nasabah termasuk dana bank-bank Indonesia yang investasi di sana, akan sukar ditarik.

Apabila suatu bank di Indonesia terlanjur menginvestasikan sebagian besar dananya ke sana saja, tanpa adanya penyebaran ke pos-pos dana lainnya, niscaya bank tersebut akan ikut terimbas besar-besaran, dan bukan tidak mungkin ikut kolaps.

(7) Setelah Anda menemukan bank daerah di Indonesia dengan deposito yang aman namun returnnya besar, alokasikan 80% dana Anda ke sana. Misalnya, Anda punya 100 juta, masukkan 80 juta dana Anda ke deposito aman berbunga besar tadi.

(8) Lalu sisanya sebesar 20% dana, yakni 20 juta, silakan digunakan semau Anda, asal jangan untuk foya-foya. Anda bisa memasukkannya ke saham dan sebagainya. Saran saya untuk pemula, bisa main di ORI saja. Untuk main saham boleh saja, tetapi pastikan Anda paling tidak mempelajari basic-nya lebih dulu.

Nah, dengan demikian Anda sudah mendapatkan RDPT bikinan Anda sendiri? Likuidkah? Iya donk, khan instrumen utamanya pakai deposito. Amankah? Well, kita tahu sendiri deposito itu bagaimana. Tentunya jika kita mau lebih aman, kita pun menyebar 80% dana kita ke berbagai deposito berbunga besar, sebagaimana Manajer Investasoi (MI) di RD juga menyebar dana nasabah ke banyak tempat.

Satu yang paling penting ketika Anda membuat RDPT Anda sendiri, adalah Anda tidak perlu menggaji pihak Manajer Investasinya sama sekali. Dan tentunya, lebih bergengsi dan bikin pe-de donk!

==================


- Privat umum bisnis dari nol: 100 ribu rupiah *
- Privat umum reksadana dari nol: 100 ribu rupiah *
- Pembuatan program komputer untuk toko / mini-market / usaha apapun **
- Privat khusus 1 orang saja: 200 ribu rupiah
* minimal 5 orang pendaftar
** bergaransi support purna jual selama 5 tahun

Hubungi:
ekadp73@yahoo.com
ekadp22@yahoo.com (dalam kondisi email pertama gagal)

Mengenal Reksadana Pendapatan Tetap

Apaan sih RDPT itu?

Tidak kenal tidak sayang, itu kata pepatah. Oke, pada blog kali ini, kita bahas apa sih RDPT itu?

RDPT adalah reksadana di mana 80% komposisinya harus masuk ke obligasi atau produk pasar uang macam deposito. Demi melindungi kepentingan nasabah, maka peraturan pemerintah mengharuskan agar 80% dana nasabah di RDPT agar masuk ke obligasi atau produk aman lainnya, baru 20% boleh digunakan untuk yang lainnya, misalnya dimasukkan ke saham.

Nah, dari definisinya saja, sudah kedengaran kalau RDPT itu aman khan?

Karena di dunia keuangan obligasi, terutama yang ratingnya AAA atau paling tidak di atas BBB, dianggap instrumen yang cukup aman, maka RDPT pun disebut sebagai Pendapatan Tetap. Mengapa? Sebab volatilitas di obligasi cukup rendah, sehingga penghasilannya pun relatif tetap di angka tertentu. Hmm, menengok RDPT ini ibaratnya menengok kembali deposito, dengan segala keamanan dan kepastiannya, dan tentunya.. bunga yang rendah! Oh, well...

===========

- Privat umum bisnis dari nol: 100 ribu rupiah *
- Privat umum reksadana dari nol: 100 ribu rupiah *
- Pembuatan program komputer untuk toko / mini-market / usaha apapun **
- Privat khusus 1 orang saja: 200 ribu rupiah
* minimal 5 orang pendaftar
** bergaransi support purna jual selama 5 tahun

Hubungi:
ekadp73@yahoo.com
ekadp22@yahoo.com (dalam kondisi email pertama gagal)

Apa Itu Reksadana

Reksadana adalah sebuah intrumen investasi dimana kita membayar sejumlah uang dan membiarkan dana tersebut dikelola oleh manajer investasi profesional untuk diputar di pasar modal. Apabila kita membeli reksadana saham, berarti kita meminta mereka untuk membantu kita memilihkan saham-saham yang bagus. Apabila kita membeli reksadana pendapatan tetap, berarti kita meminta mereka untuk membantu kita memilihkan obligasi yang bagus.

Sebagai contoh, ada ribuan masyarakat yang memasukkan dana pada sebuah reksadana saham A. Uang yang terkumpul dari dana masyarakat berkisar sebesar 100 milyar rupiah. Dana sebesar itu akan dikelola oleh manajer investasi dalam reksadana tersebut untuk membeli saham. Apabila nanti ada keuntungan dari bermain saham ini, maka masyarakat jugalah yang mendapat untung. Dengan kata lain, pada reksadana saham, kita bermain di saham, namun melalui perantara manajer investasi profesional. Cara ini tergolong cukup aman karena permainan saham dilakukan oleh manajer profesional yang biasa juga telah berpengalaman. Bandingkan apabila kita sendiri yang melakukan permainan saham.

Tapi, tentunya para manajer investasi tersebut juga meminta gaji dari kita. Nanti kita akan membahas hal tersebut setelah kita memahami lebih dulu sistem yang berlaku dalam reksadana.

Mengapa Reksadana

Investasi reksadana merupakan sebuah investasi yang paling cocok untuk sebagian besar masyarakat Indonesia. Alasannya sebagai berikut.
Pembahasan buku ini menekankan pada investasi reksadana, sebuah investasi yang cukup dikenal oleh mayoritas masyarakat Indonesia. Alasannya sebagai berikut.

- Investasi ini murah. Anda bisa berinvestasi di reksadana cukup dengan uang 500 ribu rupiah saja. Bandingkan dengan investasi perumahan, emas batangan, atau bahkan deposito yang mematok minimal 7 s/d 10 juta untuk bisa membuka rekening.

- Investasi ini memiliki resiko yang jauh lebih kecil dibanding saham.

- Investasi ini mampu memberi return yang cukup tinggi, 30% s/d 50% /thn, dengan resiko yang relatif kecil.

- Investasi ini mudah pengelolaannya. Hitung-hitungannya tidak serumit saham.

Oleh karena itu, pada dasarnya investasi reksadana merupakan sebuah investasi yang paling cocok untuk sebagian besar masyarakat Indonesia. Sebab, fakta nyata membuktikan bahwa sebagian besar khalayak masyarakat masih bermental takut resiko, namun mengharapkan return yang lebih tinggi dibanding deposito.
Nah, disinilah reksadana mengambil peranan. Sebab dia memiliki karakteristik resiko menengah (relatif kecil), tetapi dengan tingkat return yang memadai.

Selasa, 18 Agustus 2009

Mengenal Reksadana

Apakah reksadana itu? Tak lain adalah produk investasi pasar modal, dimana kita menyetor dana ke Manajer Investasi, untuk dikelola oleh mereka. Dana kita akan dimasukkan ke saham, obligasi, SUN, dan sebagainya. Dengan demikian uang kita akan berkembang, dan kita akan mendapatkan return berupa kenaikkan NAB.